πŸ“š SPIRIT DHUHA
πŸ“– Kajian Riyadhus Shalihin
============================
πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦

πŸ“‹ Bab 56

Keutamaan Lapar, Hidup Serba Kasar, Cukup Dengan Sedikit Saja Dalam Hal Makan, Minum, Pakaian Dan Lain-lain Dari Ketentuan-ketentuan Badan Serta Meninggalkan Kesyahwatan- kesyahwatan (Keinginan-keinginan Jasmaniyah)

πŸ“ Hadist 500

πŸ“• Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Demi Zat yang tiada Tuhan melainkan Dia,
sesungguhnyaiah bahwa saya menyandarkan hatiku ke bumi karena kelaparan dan sesungguhnya pula bahwa saya mengikatkan batu pada perut saya karena kelaparan.

πŸ“•Sebenarnya saya pernah
duduk-duduk pada suatu hari di jalanan orang-orang yang sama keluar melalui jalanan itu – untuk mencari nafkahnya masing-masing. Kemudian Nabi s.a.w. berjalan melalui tempat saya dan beliau tersenyum ketika melihat saya, karena mengetahui keadaan dan hal-ihwal yang ada dalam wajahku dan diriku, kemudian beliau bersabda:
“Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Mari ikut,” dan beliau terus berlalu dan saya mengikutinya.

πŸ“•Selanjutnya beliau
masuklah di rumah keluarganya, saya mohon izin lalu beliau mengizinkan masuk untukku. Sayapun
masuklah, di situ beliau menemukan susu dalam gelas. Beliau bertanya: “Dari manakah susu ini?”
Keluarganya berkata: “Fulan atau Fulanah itu menghadiahkan untuk Tuan.” Beliau bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Susullah para ahlush-shuffah, lalu panggillah mereka untuk datang padaku.”

Abu Hurairah berkata: “Ahlush-shuffah itu adalah merupakan tamu-tamu Islam, karena tidak
bertempat pada sesuatu keluarga, tidak pula berharta dan tidak berkerabat pada seseorangpun.

πŸ“•Jikalau ada sedekah – zakat – yang datang pada Nabi s.a.w. lalu sedekah -atau zakat – itu dikirimkan
semuanya oleh beliau kepada mereka itu dan beliau sendiri tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi kalau beliau menerima hadiah, maka dikirimkanlah kepada orang-orang itu dan beliau sendiri mengambil sebagian daripadanya. Jadi beliau bersama-sama dengan para ahlush-shuffah itu untuk
menggunakannya.”

πŸ“•Perintah Nabi s.a.w. memanggil ahlush-shuffah itu tidak mengenakkan hati saya dan oleh sebab itu saya berkata: “Apa hubungannya susu ini untuk diberikan ahlush-shuffah. Saya adalah lebih berhak untuk memperoleh susu ini dengan sekali minuman saja, agar saya dapat merasa kuat
tubuhku.” Kemudian, jikalau orang-orang itu datang, Nabi s.a.w. tentu menyuruh saya agar saya memberikan itu kepada mereka. Barangkali tidak akan dapat sampai padaku – yakni bahwa saya
tidak memperoleh bagian – susu itu, tetapi juga tidak ada jalan lain kecuali mentaati Allah dan mentaati RasulNya s.a.w. Oleh karena itu mereka saya datangi dan saya panggillah semuanya.
Mereka menghadap dan meminta izin, lalu Nabi s.a.w. mengizinkan mereka masuk, juga sama mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dalam rumah. Beliau lalu bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi:
“Ambillah susu itu dan berikanlah kepada mereka.”
Abu Hurairah berkata: “Saya lalu mengambil gelas, kemudian saya berikan pada seseorang dulu. Ia minum sampai kenyang minumnya lalu gelas dikembalikan. Seterusnya saya berikan kepada yang lain, ia pun minumlah sampai kenyang pula minumnya, lalu dikembalikanlah gelasnya,
sehingga akhirnya sampai giliran saya memberikan itu kepada Nabi s.a.w., sedang orang-orang ahlush-shuffah itu sudah puas minum semuanya.

πŸ“•Beliau s.a.w. mengambil gelas lalu diletakkan di
tangannya, kemudian beliau melihat saya dan tersenyum, kemudian bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Sekarang tinggallah saya dan engkau – yang belum minum.” Saya menjawab: “Benar Tuan, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Duduklah dan minumlah.” Saya pun duduklah lalu saya minum. Beliau bersabda lagi: “Minumlah lagi.” Sayapun
minumlah. Beliau tidak henti-hentinya bersabda: “Minumlah lagi,” sehingga saya berkata: “Tidak, demi Allah yang mengutus Tuan dengan benar, saya sudah tidak mendapatkan jalan lagi untuk minum itu – artinya sudah amat kenyang minumnya itu.

πŸ“•Setelah itu beliau bersabda: “Kalau begitu,
berikanlah saya gelas itu “Gelaspun saya berikan, kemudian beliau memuji kepada Allah Ta’ala dan
membaca bismillah di permulaan minumnya lalu beliau minumlah sisanya itu.” (Riwayat Bukhari)

#ShalatYuk
#ShalatDhuhaYuk
#DhuhaUmmat

πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦β˜€πŸ’¦
============================
πŸ“¬ Bagi Sahabat Kodham yang punya bakat menulis tentang Pengalaman Pribadi Terkait Shalat Dhuha dan ingin berbagi dengan Kodhamer, kirimkan cerita inspiratifnya dengan mencantumkan :

Nama#Group Kodham

Silahkan kirimkan via WhatsApp ke :
(Akhawat) : Ukh Siro
☎ 085624807925
(Ikhwan) : Akh Abdy
☎ 085261451417

 

 

Advertisements